Cinta Tak Pernah Memihak (Bagian 2)

Betapaku berdebar-debar, seluruh aliran darahku mengalir ke satu titit yang membuat juniorku jadi tegang. Ngehiiiiiiiiiiiiitttt suara decit rem motorku karena ku tiba2 saja ngerem mendadak hambir menabrak mobil di depanku karena konsentrasiku buyar. Makin buyar karena rem mendadak itu membuat dia mencengkram pahaku dan tubuhnya benar2 rapat dengan tubuhku.

Ahay ada pom bensin di depan sana, ku belokkan saja sepeda motorku, lalu parkir dan menuju toilet " bentar ya " ucapku pada Dina. Entahlah bagaimana ekspresi Dina ketika ku tinggal di toilet.

Ku basahkan juniorku untuk meredakan ketegangannya. Bener2 horny aku, jadi begitu ya rasanya payudara wanita. Ku redakan detak jantungku agar kembali normal. Ku basahkan muka ku untuk menyegarkan pikiranku. Setelah kembali normal barulah ku keluar toilet dan kembali menuju motorku.

Dina menatapku kebingungan dari atas sepeda motorku, ternyata dia tidak turun dari motorku, untunglah tidak terjatuh motorku karena Cuma ku standar samping " udah kelar buang hajatnya, sampe lupa sama yg digonceng, untuk kaki gw panjang bisa nahan motor lo" ocehnya padaku.

" Sorry deh gk nahan soalnya "jawabku. Ku jalankan motorku kembali dan aku coba mengatur jarak dengannya agar tidak terjadi seperti tadi, walau enak sih tapi ngeri juga klo harus bertaruh nyawa seperti tadi.

Sesampainya di depan sebuah rumah yang sangat megah bagiku, dinding pagar bercat putih, dengan hiasan 2 patung ala film Lord Of The Rings. Pintu pagar dibuka oleh seorang satpam tinngi besar dan disambut gonggongan anjing penjaga yang besar, pernah aku membaca sebuah artikel tentang anjing penjaga dan mungkin anjing ini jenis Caucasian Shepherd. Begitu galak dengan orang asing tapi begitu lembut dengan tuannya.

Taman yang begitu tertata indah, dengan kolam ikan di tengahnya dan air mancur yang memancar tanpa henti. Jadi ini rumah pejabat toh, pantes aja banyak yang mau jadi pejabat.

" Woii bengong aja ntar digigit anjing gw lho, yuuk masuk " sahut Dina membuyarkan lamunanku. Aku masih saja terbengong-bengong melihat halaman rumahnya, belum habis rasa takjubku, aku terkejut lagi saat memasuki rumahnya, sulit untuk ku jelaskan yang jelas sangat mewah sekali.

Harusnya aq kuliah mengambil jurusan ilmu ekonomi atau hukum atau jurusan yang bisa membuatku menjadi pejabat. Kalo MI mah ujung2nya jadi programmer atau paling tinggi menjadi analis programmer. Tapi sudah jiwaku bergelut di dunia IT mau bagaimana lagi.

" Duduk Dra jangan malu-malu bentar ya" mempersilakanku lalu pergi entah mau ke ruangan apa.

Tidak lama kemudian seseorang setengah baya membawa segelas jus menghampiriku dan mempersilakan aku untuk meminumnya.

" Haii sorry lama, dari tadi diem aja sih " menepuk pundak ku entah kapan Dina sudah berada di ruang tamu, lalu duduk di kursi panjang di sebelahku.

" Gk kenapa2 Cuma gw kira gw udah mati " jawab ku.

" Maksud lo apa Dra? Apa gara2 tadi lo mau nabrak mobil ? " Tanya Dina keheranan sambil menatapku tajam.

" Bukan itu, gw kira gw udah di surga abis rumah lo bagus bgt " jawabku

" Bisa aja lo Dra " sahut Dina

Dengan tatapan masih tajam kepadaku membuat aku menjadi kikuk. " Biasanya cwok yang main ke rumah gw pas posisi duduknya kayak lo sama gw pasti cowok itu langsung nyamperin gw duduk 1 kursi panjang yang gw dudukin sekarang, pengen mepet2 gitu " celoteh Dina. " Terus sok-sok perhatian berusaha pegang2 gw, klo pacar gw sih gk masalah nah ini cowok gk jelas yang gk pake undangan dateng ke rumah gw gitu aja " sambung Dina menceritakan tingkah laku para fans2 ababilnya.

" Tapi lo beda, lo tetep anteng di kursi lo saat ini. Apa jangan2 lo homo lagi " Ejek Dina padaku.

" Sorry ya gw masih normal kali, hhhmmm ngomong2 kok ada aroma makanan ya ?" tiba2 saja ku mencium aroma masakan yang menggugah seleraku

" Oohh itu mba Tia lagi masak buat kita, enak tau masakannya " Jawab Dina. " Udah mateng belom " Tanyaku lagi.

" Belom nanti klo mateng juga di kasih tau "jawab Dina.

" Eh ngomong2 masalah lo homo atau normal, hhhmmm gw percaya kok klo lo normal " Dina mentapku sambil tangannya menyentuh lutut kakiku. " buktinya tadi di motor lo ngaceng kan kena toket gw ? makanya lo hampir nabrak, trs lo buru2 ke toilet, mau di kluarin ya di toilet? Ko cepet bgt " tangannya makin ke atas menuju pahaku tubuhnya pun makin mendekatiku.

" Gk dikeluarin, Cuma ditenangin aja biar gk tegang trs " jawabku gemeteran merasakan jemari lentiknya bermain di pahaku yang masih tertutupi celana jeans.

" Gw bantuin keluarin mau gk Dra, udah 1 bulan gw gk main sama pacar gw gara2 bokap gw kasus dia jadi menjauh dari gw" tangannya pun makin bergerilya menuju pangkal pahaku. Juniorku tiba-tiba saja dalam tegang seperti seorang prajurit yang sedang santai lalu tiba-tiba ada presiden datang dan langsung berdiri untuk memberi hormat.

" Gw belom pernah Din, lagian nanti klo pembantu atau satpam rumah lo tau gimana " cegahku dengan melebarkan ke dua kakiku karena terdorong rasa geli di pahaku yang terus menerus digelitik oleh Dina.

"Santai aja Dra, udah lo ikutin intruksi gw aja, itung2 sebagai rasa terima kasih gw " Dina lalu menuntun ku duduk di sebelah kursi panjangnya. Lalu merebahkan tubuhku di kursi tersebut. Dibukanya seleting celanaku dan diturunkan celana ku beserta CD ku sekalian. Junior ku yang berukuran hanya 12 Cm pun langsung mengacung dengan kerasnya, terbebas bagai burung keluar dari sangkarnya.

" Wow udah ngaceng aja nih titit lo. Gw jilat2 ya " ucapnya sambil menjulurkan lidahnya menuju penis ku, dan begitu hinggap di kepala penis ku langsung saja lidahnya menjelajahi, menggelitik ujung2 membuatnya jadi lebih mengkilap, sungguh geli kurasakan hingga kaki ku bergerak2 tak karuan menahan rasa geli itu. Dimasukan kepala penis ku kedalam mulutnya, disedot2 seperti seorang bayi yang menyusu pada ibunya. Lidahnya masih terus-terusan mengelilingi ujung2 titit ku.

"OOOOuuuugghhhh enak banget Din, lo jago juga ya " ucapku. Dina tanpa menjawab langsung dia maju mundurkan mulutnya di batang titit ku, rasanya makin ngilu saja. Jemari lentiknya tak tinggal diam saja, dia mainkan biji titit ku, dia elus2 dengan lembutnya membuat aq makin tak karuan.

" Misi non makanannya nih " ucap mba Tia pembantu Dina menaruh makanan di meja tamu tanpa rasa kaget dengan apa yg sedang aku dan Dina lakukan, sontak saja aku terkejut dengan kehadirannya. Sejak kapan dia berada di sini. Aku berusaha bangkit untuk memakai celana ku tapi ditahan dengan Dina yang dengan tenang masih mengulum penis ku.

Dan mba Tia pun berlalu pergi tanpa menghiraukan kami berdua. Kuluman bibir Dina di penis ku makin cepat, sambil tangannya menjelajahi paha bagian dalam ku. Aku pun kembali tenang dan menikmati permainan Dina. Ternyata seorang bintang kampus memiliki nafsu yang luar biasa juga.

OOohhhhhh dikulumnya dalam2 penisku dan disedotnya kuat2 penis ku ditarik keatas sampai pplluukkk terlepas penis ku dari bibir indahnya. Walau termasuk tebal bibirnya tapi tetap indah menurutku dan tambah memerah setelah bermain-main di penisku

" Gimana Dra enak kan bibir gw? Apalagi memek gw lebih enak tau. Ucapnya sambil jari jemarinya mengelus-elus penisku yang masih tegak berdiri dengan kerasnya dan wajahnya mendekati wajahku. Aroma wangi bunga yang tertabur di tubuhnya tercium begitu dalam oleh hidungku.

"Letakkan ku di atas bahumu, bahwa aku inginkan dirimu, maafkan ku menggangu harimu, temaniku iringi sepiku "Kepalanya direbahkan di bahuku dengan dana lembut dibarengi hembusan nafas yang mengalir di sisi telingaku.

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Tak Pernah Memihak (Bagian 1)

Cinta Tak Pernah Memihak (Bagian 3)